Dalam jangka panjang, diabetes yang tidak terkontrol bisa menimbulkan komplikasi serius, salah satunya kerusakan saraf otonom.
Saraf ini berfungsi mengatur mekanisme tubuh secara otomatis, termasuk tekanan darah. Jika terganggu, tekanan darah dapat turun tiba-tiba saat berdiri (hipotensi ortostatik), sehingga aliran darah ke otak berkurang sementara dan menimbulkan pusing, lemas, dan kantuk.
Dr. Herry mengingatkan bahwa meski sering disepelekan, rasa kantuk yang terus-menerus bisa menurunkan kualitas hidup karena mengganggu fokus, aktivitas fisik, dan pola makan harian.
Ia juga menegaskan, kondisi ini dapat menjadi gejala prediabetes maupun diabetes yang, bila tidak ditangani, berisiko menimbulkan komplikasi berbahaya seperti luka yang sulit sembuh, gagal ginjal, stroke, serangan jantung, hingga kebutaan.
Menurutnya, penderita dapat mencegah kantuk akibat gangguan gula darah dengan menerapkan pola makan seimbang, menjaga tidur cukup, mengelola gula darah dan stres, serta rutin berolahraga.
“Segera lakukan pemeriksaan medis untuk memastikan kemungkinan prediabetes, diabetes, atau gangguan metabolik lainnya,” pungkas dr. Herry. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar