BorneoFlash.com, OPINI – Pendidikan sering kali dianalogikan sebagai mesin penggerak peradaban, dan guru adalah jantung yang memompanya. Namun, di balik megahnya gedung sekolah dan canggihnya kurikulum digital, terdapat sebuah ancaman sunyi yang jauh lebih berbahaya daripada kekurangan fasilitas fisik: hilangnya dedikasi guru.
Fenomena ini bukan sekadar masalah etos kerja individual, melainkan krisis eksistensial yang mampu melumpuhkan potensi satu generasi secara sistematis.
Kehilangan dedikasi tidak terjadi secara instan. Sering kali, ini merupakan hasil dari proses panjang yang disebut sebagai teacher burnout.
Secara teoretis, Herbert Freudenberger, psikolog yang mencetuskan istilah burnout, menjelaskan bahwa kondisi ini muncul akibat tekanan kerja yang berlebihan dan kelelahan emosional yang hebat. Dalam konteks pendidikan modern, guru sering kali terjebak dalam “labirin administrasi” yang menyita waktu lebih banyak daripada proses refleksi pedagogis itu sendiri.
Ketika guru mulai memandang mengajar hanya sebagai rutinitas untuk memenuhi jam kerja atau sekadar menggugurkan kewajiban administratif, maka ruh pendidikan telah hilang. Guru yang kehilangan dedikasi cenderung mengadopsi gaya mengajar yang mekanis, dingin, dan tidak inspiratif. Mereka hadir secara fisik di kelas, namun absen secara emosional dan intelektual.
Pendidikan Sebagai Tindakan Cinta dan Pembebasan
Untuk memahami betapa fatalnya dampak kehilangan dedikasi ini, kita perlu menengok kembali pemikiran para tokoh pendidikan dunia. Paulo Freire, dalam mahakaryanya Pedagogy of the Oppressed, menekankan bahwa pendidikan yang sejati adalah sebuah “tindakan cinta” dan dialog.
Freire mengkritik konsep “pendidikan gaya bank” (banking concept of education), di mana guru hanya menyetorkan informasi ke dalam otak siswa yang dianggap sebagai wadah kosong.
Guru yang tidak lagi memiliki dedikasi akan terjebak dalam pola pendidikan gaya bank ini. Tanpa gairah, tidak akan ada dialog; tanpa dialog, tidak akan ada kesadaran kritis. Jika guru kehilangan minat untuk mengenal dunia siswanya, maka pendidikan hanya akan menjadi proses indoktrinasi yang menjemukan, bukan pembebasan.





