Opini

Ancaman Nyata Pendidikan: Guru yang Kehilangan Dedikasi

lihat foto
Ilustrasi by Freepick.
Ilustrasi by Freepick.

BorneoFlash.com, OPINI - Pendidikan sering kali dianalogikan sebagai mesin penggerak peradaban, dan guru adalah jantung yang memompanya. Namun, di balik megahnya gedung sekolah dan canggihnya kurikulum digital, terdapat sebuah ancaman sunyi yang jauh lebih berbahaya daripada kekurangan fasilitas fisik: hilangnya dedikasi guru.

Fenomena ini bukan sekadar masalah etos kerja individual, melainkan krisis eksistensial yang mampu melumpuhkan potensi satu generasi secara sistematis.

Kehilangan dedikasi tidak terjadi secara instan. Sering kali, ini merupakan hasil dari proses panjang yang disebut sebagai teacher burnout.

Secara teoretis, Herbert Freudenberger, psikolog yang mencetuskan istilah burnout, menjelaskan bahwa kondisi ini muncul akibat tekanan kerja yang berlebihan dan kelelahan emosional yang hebat. Dalam konteks pendidikan modern, guru sering kali terjebak dalam "labirin administrasi" yang menyita waktu lebih banyak daripada proses refleksi pedagogis itu sendiri.

Ketika guru mulai memandang mengajar hanya sebagai rutinitas untuk memenuhi jam kerja atau sekadar menggugurkan kewajiban administratif, maka ruh pendidikan telah hilang. Guru yang kehilangan dedikasi cenderung mengadopsi gaya mengajar yang mekanis, dingin, dan tidak inspiratif. Mereka hadir secara fisik di kelas, namun absen secara emosional dan intelektual.

Pendidikan Sebagai Tindakan Cinta dan Pembebasan

Untuk memahami betapa fatalnya dampak kehilangan dedikasi ini, kita perlu menengok kembali pemikiran para tokoh pendidikan dunia. Paulo Freire, dalam mahakaryanya Pedagogy of the Oppressed, menekankan bahwa pendidikan yang sejati adalah sebuah "tindakan cinta" dan dialog.

Freire mengkritik konsep "pendidikan gaya bank" (banking concept of education), di mana guru hanya menyetorkan informasi ke dalam otak siswa yang dianggap sebagai wadah kosong.

Guru yang tidak lagi memiliki dedikasi akan terjebak dalam pola pendidikan gaya bank ini. Tanpa gairah, tidak akan ada dialog; tanpa dialog, tidak akan ada kesadaran kritis. Jika guru kehilangan minat untuk mengenal dunia siswanya, maka pendidikan hanya akan menjadi proses indoktrinasi yang menjemukan, bukan pembebasan.


Senada dengan Freire, bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, melalui asas Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), menegaskan bahwa peran utama guru adalah sebagai model karakter. Dedikasi adalah bahan bakar utama dari keteladanan tersebut.

Bagaimana mungkin seorang siswa belajar tentang integritas, semangat juang, dan rasa ingin tahu jika orang yang berdiri di depan kelas menunjukkan wajah lesu, ketidakpedulian, dan sikap asal-asalan? Kehilangan dedikasi berarti kehilangan otoritas moral untuk mendidik karakter.

Secara sosiologis, Emile Durkheim memandang pendidikan sebagai alat untuk mentransmisikan nilai-nilai sosial demi keberlangsungan masyarakat. Jika guru sebagai agen transmisi tersebut kehilangan komitmennya, maka terjadi disfungsi dalam sistem sosial. Kita mungkin akan melihat angka kelulusan yang tinggi secara statistik, namun secara substansial, kita menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kedalaman berpikir, empati, maupun daya tahan mental.

Dampak jangka panjangnya adalah lahirnya "generasi hampa". Siswa yang dididik oleh guru tanpa dedikasi cenderung kehilangan motivasi belajar intrinsik. Mereka belajar hanya untuk mengejar nilai, karena itulah satu-satunya parameter yang dihargai dalam lingkungan yang mekanis. Potensi kreatif mereka terpendam karena tidak pernah dipicu oleh pertanyaan-pertanyaan reflektif dari guru yang benar-benar peduli.

Mengatasi hilangnya dedikasi tidak cukup hanya dengan menaikkan gaji, meski kesejahteraan finansial adalah prasyarat penting. Perlu ada upaya sistemik untuk mengembalikan guru pada fungsinya yang paling hakiki: sebagai pendidik, bukan sekadar administrator.

  1. Reduksi Beban Kerja Non-Pedagogis: Memberikan ruang bagi guru untuk fokus pada pengembangan instruksional dan pendekatan personal kepada siswa.

  2. Dukungan Psikologis: Institusi pendidikan harus menyediakan mekanisme dukungan kesehatan mental bagi guru untuk mencegah burnout.

  3. Rekonstruksi Idealisme: Melalui pelatihan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek filosofis dan kemanusiaan dalam mengajar.

Kesimpulan

Guru yang kehilangan dedikasi adalah ancaman nyata yang melampaui isu kurikulum mana pun. Pendidikan adalah interaksi antara manusia dengan manusia, bukan sekadar transfer data. Jika guru berhenti mencintai proses belajar dan berhenti peduli pada pertumbuhan siswanya, maka sekolah tak ubahnya menjadi pabrik yang memproduksi raga tanpa jiwa.

Kita harus ingat pesan Albert Einstein: "Art of teaching is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge." Seni membangkitkan kegembiraan itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang hatinya masih terikat erat pada meja kelas dan masa depan anak didiknya. (*)

Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490

Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar