BorneoFlash.com, OPINI - Di balik riuh rendah transaksi "sulap nilai" antara orang tua dan oknum sekolah, ada satu korban tak terlihat yang perlahan mati dalam senyap: moralitas dan muruah profesi guru.
Fenomena rapor merah yang mendadak biru melalui kekuatan rupiah bukan sekadar potret kecurangan akademik biasa atau kenakalan remaja tingkat SMA/SMK .
Ini adalah sebuah demoralisasi sistemik—proses pembusukan moral yang terstruktur, runtuhnya harga diri profesional, dan matinya idealisme para pendidik yang seharusnya berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan karakter terakhir bangsa.
Ketika ruang guru beralih fungsi dari laboratorium peradaban menjadi meja kasir transaksional, kita tidak hanya sedang menghadapi rusaknya sistem penilaian, melainkan keruntuhan total dari fondasi etis pendidikan nasional.
Dahulu, guru digelari sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang digugu dan ditiru. Istilah bahasa Jawa yang legendaris, digugu lan ditiru, menempatkan guru pada posisi sakral: setiap perkataannya dapat dipercaya (diandalkan) dan setiap tindakannya patut dicontoh.
Guru adalah simbol kebenaran mutlak dan pemegang otoritas moral tertinggi di dalam ekosistem kelas.
Jika seorang pendidik menyatakan bahwa seorang siswa belum mampu atau mendapatkan nilai merah, maka seluruh instrumen sosial—mulai dari kepala sekolah, komite, hingga orang tua di rumah—akan menghormati dan mendukung penilaian objektif tersebut. Tujuannya satu: agar si siswa berefleksi, membenahi metode belajarnya, dan berjuang lebih keras demi memperbaiki kapasitas dirinya.
Namun, realitas kontemporer di tingkat sekolah menengah atas menyajikan sebuah tragikomedi yang getir. Ketika lembaran rupiah berhasil mendikte ketajaman tinta pena guru di ruang-ruang sepi yang jauh dari pengawasan publik, peran suci sebagai pemandu moral itu runtuh seketika dalam semalam.
Guru tidak lagi bertindak sebagai pendidik yang menguji batas kemampuan berpikir anak manusia, melainkan turun kasta menjadi kasir nilai atau operator administrasi transaksional.
Mereka tidak lagi disibukkan dengan instrumen evaluasi capaian pembelajaran berbasis kompetensi riil, melainkan sibuk menghitung nominal rupiah yang masuk atau menimbang relasi kuasa yang menekan. Dalam titik nadir ini, fungsi guru mengalami reduksi yang sangat ekstrem: dari seorang arsitek jiwa dan karakter bangsa, menjadi sekadar pelayan pembuat angka instan pelipur lara ego kelas menengah ke atas.
Proses demoralisasi yang menggerogoti muruah guru tidak terjadi secara mendadak dalam ruang hampa, melainkan beroperasi melalui tahapan-tahapan sosiologis dan psikologis yang sangat rapi sekaligus mengerikan. Tahap pertama dimulai ketika objektivitas penilaian dilempar keluar jendela ruang guru.
Ketika nilai seorang siswa yang hobi membolos, abai terhadap tugas, dan tidur di kelas bisa mendadak melompati nilai siswa jujur yang belajar berdarah-darah—hanya karena intervensi "amplop" atau memo pejabat—saat itulah sang guru kehilangan otoritas moralnya seketika.
Ketika siswa-siswa yang jujur mengendus ketidakadilan ini, mereka tidak lagi memandang guru mereka sebagai sosok yang berwibawa, bijaksana, atau patut diteladani. Guru kehilangan statusnya sebagai "hakim akademik" yang adil.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar