Opini

Narasi Demoralisasi Guru: Ketika Benteng Moral Menjadi Kasir Nilai

lihat foto
Gambar ilustrasi dari pengembangan AI. BorneoFlash.com
Gambar ilustrasi dari pengembangan AI. BorneoFlash.com

Untuk memahami mengapa benteng moral ini begitu mudah runtuh di hadapan "keajaiban lembaran rupiah," kita harus membedah fenomena ini menggunakan pisau analisis teori-teori sosiologi, psikologi sosial, dan pedagogi kritis yang diutarakan oleh para ahli terkemuka di dunia. Sosiolog terkemuka asal Prancis, Pierre Bourdieu, mengenalkan konsep mengenai berbagai bentuk modal, termasuk Modal Ekonomi (Economic Capital) dan Modal Budaya (Cultural Capital).

Dalam konteks sekolah menengah atas, angka-angka fiktif berwujud nilai A atau grafik rapor yang meroket naik merupakan perwujudan dari modal budaya yang telah dilembagakan (institutionalized cultural capital). Modal budaya inilah yang memegang peranan krusial sebagai alat tukar utama bagi seorang siswa untuk memenangkan kompetisi memperebutkan kursi panas di perguruan tinggi negeri melalui jalur tanpa tes.

Ketika sistem pendidikan bergeser menjadi sebuah arena pasar bebas yang sangat kompetitif namun tidak setara, terjadi proses komodifikasi pendidikan. Nilai akademik, ilmu pengetahuan, dan karakter tidak lagi dipandang sebagai substansi intrinsik dari proses pendewasaan manusia, melainkan direduksi menjadi komoditas ekonomi murni yang memiliki nilai tukar materi.

Orang tua siswa yang memiliki surplus Modal Ekonomi (uang) menggunakan kapitalnya untuk melakukan penetrasi ke dalam ruang guru. Mereka melakukan transaksi asimetris: membeli modal budaya instan untuk anak mereka langsung dari sumbernya—yaitu guru yang memegang otoritas legal atas rapor tersebut.

Guru, yang secara struktural sering kali berada dalam posisi kekurangan modal ekonomi (karena kesejahteraan guru di Indonesia yang masih memprihatinkan), akhirnya bersedia menukarkan otoritas moral dan modal simboliknya demi mendapatkan kompensasi finansial langsung maupun tidak langsung.

Mengapa suap-menyuap nilai ini membudaya di institusi sekolah? Teori Strain (Ketegangan Struktural) yang digagas oleh Robert K. Merton memberikan penjelasan yang sangat komprehensif. Merton berpendapat bahwa penyimpangan sosial massal terjadi ketika terdapat jurang pemisah yang sangat lebar antara tujuan budaya (cultural goals) yang diagungkan oleh masyarakat dengan sarana yang sah (institutionalized means) yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam konstelasi sosial masyarakat kita hari ini, tujuan budaya yang dipaksakan kepada setiap anak remaja SMA/SMK  adalah "sukses akademik": wajib lulus dengan nilai sempurna, meraih indeks prestasi tinggi, dan menembus universitas favorit demi menjaga gengsi serta status sosial keluarga.

Namun, sarana sah yang disediakan—seperti belajar dengan tekun, disiplin tinggi, kejujuran intelektual, serta fasilitas sekolah yang merata—tidak mampu diakses atau dipenuhi dengan baik oleh semua siswa karena keterbatasan kapasitas intelektual maupun ketimpangan sistemik.

Ketika ketegangan struktural (strain) ini memuncak dan ketakutan akan kegagalan sosial menghantui orang tua serta siswa, mereka mengambil jalan pintas yang oleh Merton dikategorikan sebagai perilaku "Inovasi" (Innovation). 

Dalam konteks sosiologi kriminal, "inovasi" adalah terminologi sarkas untuk menggambarkan tindakan di mana pelaku tetap berpegang teguh pada tujuan budaya (nilai rapor tinggi), namun mereka menolak sarana yang sah (belajar jujur) dan menggantinya dengan sarana yang tidak sah, korup, dan melanggar hukum (suap). Ruang guru berubah menjadi episentrum tempat transaksi "inovasi" menyimpang ini diwadahi dan dilegalkan atas nama pragmatisme pendidikan.

Bagaimana para pendidik yang berpendidikan tinggi dan orang tua siswa yang religius mampu melakukan tindakan koruptif ini tanpa dihantui rasa bersalah yang mendalam? Jawabannya terletak pada Teori Netralisasi yang dirumuskan oleh Gresham Sykes dan David Matza.

Teori ini menjelaskan bahwa pelaku penyimpangan moral selalu menggunakan teknik-teknik pembenaran psikologis (techniques of neutralization) untuk membungkam suara hati nurani mereka sendiri sebelum atau sesudah melakukan aksi kejahatan.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar