Menurutnya, lingkungan sekolah harus mampu menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk berbagi cerita, sehingga setiap persoalan dapat segera ditangani sebelum menjadi lebih kompleks.
“Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua bagi siswa, tempat mereka merasa nyaman untuk menyampaikan keluhan kepada guru maupun pihak sekolah,” tambahnya.
Selain itu, Armin memastikan bahwa sekolah memiliki keleluasaan dalam memanfaatkan anggaran yang tersedia untuk membantu siswa yang membutuhkan, melalui berbagai sumber pendanaan pendidikan.
Ia menilai dukungan tersebut sudah cukup untuk menangani kasus terbatas, selama ada respons yang cepat dari pihak terkait.
“Sekolah memiliki sumber dana seperti BOSNAS, BOSDA, maupun PIP. Jika hanya satu atau dua siswa, seharusnya dapat segera diberikan bantuan,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Armin kembali menegaskan bahwa kunci utama dalam penanganan kasus semacam ini adalah komunikasi yang baik antara semua pihak.
Ia mengingatkan agar orang tua, sekolah, dan pemerintah dapat saling berkoordinasi secara aktif demi memastikan tidak ada siswa yang terabaikan.
“Apabila tidak memungkinkan untuk menyampaikan ke sekolah, silakan datang langsung ke dinas. Saya siap membantu, bahkan secara pribadi,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar