Berita Samarinda Terkini

Kematian Siswa SMK Jadi Evaluasi, Disdikbud Kaltim Ingatkan Pentingnya Koordinasi

lihat foto
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Peristiwa meninggalnya seorang pelajar SMK di Samarinda yang diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu yang tidak sesuai ukuran hingga menimbulkan infeksi serius, memantik perhatian luas dari masyarakat.

Kasus ini menjadi perbincangan karena disebut bermula dari luka di bagian kaki yang tidak tertangani dengan baik. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan ekonomi keluarga, sehingga kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah tidak terpenuhi secara layak.

Kejadian ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan evaluasi terhadap sistem dukungan pendidikan, khususnya terkait akses bantuan serta sejauh mana pihak sekolah memahami kondisi sosial ekonomi para siswanya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, menyampaikan bahwa persoalan sederhana seperti sepatu yang tidak layak sebenarnya dapat diantisipasi lebih dini apabila ada komunikasi yang berjalan efektif antara siswa, orang tua, dan pihak sekolah.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan berbagai skema bantuan pendidikan yang bisa dimanfaatkan oleh siswa kurang mampu, baik melalui jalur sekolah maupun langsung dari pemerintah.

“Apabila sepatu yang digunakan sudah tidak sesuai, seharusnya hal tersebut disampaikan kepada pihak sekolah maupun orang tua. Tersedia berbagai program bantuan seperti PIP, BOSDA, dan BOSNAS yang dapat dimanfaatkan,” ujarnya, pada Senin (5/4/2026).

Menurut Armin, kasus yang bersifat individual semestinya dapat ditangani dengan cepat selama informasi sampai kepada pihak terkait. Ia menilai tidak seharusnya ada siswa yang tidak mendapatkan kebutuhan dasar pendidikan jika komunikasi berjalan dengan baik.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam menyampaikan kondisi anak, agar penanganan dapat dilakukan sebelum masalah berkembang lebih serius.

“Untuk kasus yang hanya melibatkan satu atau dua siswa, semestinya dapat segera diberikan bantuan. Permasalahannya terletak pada ada atau tidaknya komunikasi dari pihak orang tua,” katanya.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar