Terkait pemasangan kawat berduri di sekitar Kantor Gubernur, ia meminta masyarakat tidak menafsirkan langkah tersebut secara keliru. Menurutnya, hal itu murni sebagai upaya pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan.
“Pemasangan tersebut merupakan langkah antisipatif. Bagi pihak yang tidak memiliki niat mengganggu, hal ini tentu tidak akan menjadi persoalan,” jelasnya.
Endar juga mengimbau para peserta aksi agar tetap menjaga ketertiban serta tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memanfaatkan situasi.
“Kami mengharapkan seluruh pihak dapat bertanggung jawab dalam menyampaikan aspirasi. Apabila ditemukan indikasi gangguan, segera dilaporkan kepada petugas,” ujarnya.
Ia turut menyinggung penggunaan gas air mata dalam pengendalian massa yang bersifat situasional dan mengikuti prosedur bertahap sesuai eskalasi di lapangan.
“Penggunaan gas air mata memiliki tahapan tertentu dan tidak digunakan secara langsung, melainkan hanya dalam kondisi yang memang memerlukan,” tegasnya.
Di sisi lain, Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono memastikan kesiapan TNI dalam mendukung pengamanan yang dipimpin oleh kepolisian. Sebanyak 70 personel disiagakan untuk membantu sesuai kebutuhan.

“TNI siap memberikan dukungan kepada Polri dalam pelaksanaan pengamanan. Seluruh prajurit telah dipersiapkan secara profesional dengan tetap mengedepankan pendekatan humanis,” ujarnya.
Ia menambahkan, jajaran TNI mulai dari Korem, Kodim hingga satuan tempur berada dalam kondisi siaga untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.
“Apabila dibutuhkan, kami siap bergerak sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pengamanan di wilayah Samarinda,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar