Berita Ekonomi

Situasi Politik Bikin Pasar Keuangan Bergerak Hati-hati

lihat foto
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga

BorneoFlash.com, JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pasar keuangan Indonesia saat ini sedang melakukan penyesuaian asumsi atau rekalibrasi setelah gelombang demonstrasi besar melanda sejumlah daerah dalam sepekan terakhir.

“Bangsa Indonesia tengah diliputi keprihatinan atas peristiwa dalam seminggu terakhir. Kondisi ini jelas memengaruhi pasar keuangan, baik rupiah maupun bursa saham,” ujar Fakhrul di Jakarta, Senin.

Ia menekankan, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun ke level 7.700 serta pelemahan rupiah hingga Rp16.400 per dolar AS menjadi sinyal serius bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan. Fakhrul menegaskan pemerintah perlu segera meningkatkan kepercayaan publik.

Kepercayaan itu, menurutnya, hanya bisa terbentuk jika kebijakan dibuat dengan proses yang baik, disampaikan secara jelas, serta tetap mengedepankan empati kepada masyarakat.

“Hal ini harus menjadi prioritas. Rasa keadilan juga wajib dikedepankan dalam setiap keputusan, sebab aktivitas ekonomi maupun kohesi sosial, langsung maupun tidak langsung, akan terdampak dari situasi ini,” katanya.

Fakhrul menjelaskan pelaku pasar kini sedang mengkalibrasi ulang ekspektasi, yang terlihat dari pelemahan IHSG pada perdagangan Senin.

Namun, ia mencatat tingginya minat investor dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan likuiditas domestik masih cukup kuat.


Menurutnya, pelemahan pasar saham bersifat terbatas di level 7.700. Hal ini menandakan pasar tetap meyakini pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban meski ketidakpastian meningkat.

Untuk nilai tukar rupiah, Fakhrul memperkirakan pelemahan berlanjut dalam jangka pendek hingga Rp16.500 per dolar AS akibat sentimen risk-off.

Namun, ia optimistis rupiah berpotensi menguat kembali dalam jangka menengah, seiring rencana The Fed menurunkan suku bunga dan terjaganya likuiditas domestik.

“Likuiditas kita sebenarnya cukup, tetapi pasar butuh arahan konkret dari pemerintah. Selama hal itu belum terwujud, IHSG cenderung berada dalam fase konsolidasi,” ujarnya.

Fakhrul juga menyampaikan tiga saran penting kepada pemerintah. Pertama, segera memperbaiki kondisi keamanan masyarakat dan memastikan keadilan lewat tindakan nyata atas peristiwa sepekan terakhir.

Kedua, mempercepat realisasi APBN 2025 karena akan sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat. Ketiga, menempatkan empati sebagai kunci dalam setiap komunikasi lembaga negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Di sisi lain, ia menilai sektor energi terbarukan dan consumer goods di IHSG berpotensi menarik perhatian ke depan.

“Semoga kondisi bisa terus membaik lewat komunikasi yang baik dan tindakan nyata dari pemerintah,” pungkasnya. (*/ANTARA)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar