BorneoFlash.com, BALIKPAPAN -Terungkapnya pabrik sabu-sabu dan tingginya peredaran narkotika di Kota Balikpapan, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) tak hanya memperkuat penindakan, tetapi juga membangun benteng sosial berbasis keluarga dan lingkungan.
Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, H. Bagus Susetyo, menegaskan bahwa ancaman narkoba tidak cukup dilawan dengan operasi aparat semata. Pencegahan harus dimulai dari rumah.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi di Stasiun TVRI bersama Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Kombes Pol Romylus Tamtelahitu dan pengamat publik dari Universitas Mulawarman (Unmul), yang membedah kondisi terkini serta strategi jangka panjang memutus rantai peredaran narkoba.
Data Reskrim Polda Kaltim mencatat Balikpapan berada di peringkat kedua tertinggi peredaran narkotika di Kalimantan Timur setelah Samarinda. Fakta ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Secara geografis, Balikpapan dinilai rawan karena memiliki akses terbuka melalui jalur laut, pelabuhan, dan udara. Aparat kepolisian dan BNN rutin melakukan operasi di titik-titik rawan seperti Kampung Baru, Pelabuhan Semayang, dan Manggar.
Namun, Bagus menekankan bahwa penindakan di jalur distribusi memang menjadi kewenangan aparat. Pemerintah kota mengambil peran di sisi pencegahan dan penguatan masyarakat.
Pemkot Balikpapan menggerakkan berbagai OPD untuk menjalankan program konkret, di antaranya edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba di sekolah-sekolah melalui Dinas Pendidikan. Kampanye publik bersama kepolisian dan BNN melalui media cetak dan elektronik.
Tak hanya itu, operasi lapangan terpadu oleh Satpol PP bersama aparat di tempat hiburan malam, hotel, dan rumah kos. Program Kampung Narkoba, sebagai pendekatan berbasis wilayah untuk membersihkan kawasan yang terindikasi rawan.
Pendekatan ini dirancang untuk mempersempit ruang gerak peredaran, sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar