BorneoFlash.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tetap tidak naik hingga akhir 2026 meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp17.877 per dolar.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
"Untuk kenaikan harga BBM subsidi, sudah disampaikan bahwa tidak ada kenaikan hingga akhir tahun," ujar Yuliot di Jakarta.
Selain menjaga harga, pemerintah juga memastikan stok BBM nasional dalam kondisi aman. Persediaan Pertalite dan solar CN48 saat ini berada di atas batas minimal cadangan operasional nasional yang ditetapkan selama 23 hari.
Yuliot menyebut pasokan BBM nonsubsidi juga mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.
Untuk mengurangi dampak pelemahan rupiah, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak dalam negeri dan mempercepat pengembangan kilang nasional guna memperkuat ketahanan energi.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM bersubsidi tetap aman meski harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dolar AS per barel.
Menurut Bahlil, rata-rata ICP sepanjang Januari hingga April 2026 masih berada di kisaran 80–81 dolar AS per barel, sehingga belum mencapai batas yang berpotensi memengaruhi kebijakan subsidi energi.
Karena itu, pemerintah optimistis harga BBM bersubsidi dapat dipertahankan hingga akhir tahun 2026. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar