Selain edukasi, ia juga mendorong pelaksanaan tes urine secara berkala di sekolah sebagai langkah preventif dan deteksi dini terhadap penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.
"Kalau tes urine dilakukan secara rutin, pencegahannya akan lebih efektif. Jangan sampai kita baru mengetahui setelah ada yang tertangkap," tambahnya.
Yusuf mengaku prihatin terhadap kasus yang diduga melibatkan seorang pelajar SMK di Bontang sebagai kurir narkotika.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelajar tidak lagi hanya menjadi korban sebagai pengguna, tetapi telah masuk ke dalam rantai peredaran narkoba.
"Informasinya bukan sebagai pemakai, tetapi sebagai kurir. Ini tentu sangat memprihatinkan karena sudah masuk dalam rantai peredaran," ungkapnya.
Lebih lanjut, Yusuf juga menyoroti berbagai persoalan remaja lainnya, seperti pergaulan bebas dan penyimpangan perilaku sosial.
Karena itu, ia mendorong penguatan pendidikan moral dan keagamaan melalui sinergi antara sekolah, keluarga, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi garda terdepan dalam membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif.
"Poin pentingnya ada pada pengawasan orang tua. Anak lebih banyak berada di rumah daripada di sekolah. Karena itu pengawasan harus dimulai dari keluarga, kemudian didukung sekolah dan lingkungan pergaulan yang baik," pungkasnya. (*/Adv)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar