Pada tahap awal, layanan bus kota akan melayani dua koridor utama dengan total 16 unit armada, termasuk kendaraan cadangan yang disiapkan untuk menjaga kontinuitas operasional.
“Ketersediaan armada cadangan penting untuk memastikan layanan tetap berjalan apabila terjadi kendala teknis, sehingga masyarakat tetap terlayani,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, kebutuhan operasional diperkirakan mencapai sekitar Rp35 miliar untuk dua trayek utama beserta jalur pengumpan (feeder).
Dishub juga merancang sistem tarif terpadu yang memungkinkan penumpang berpindah layanan tanpa harus membayar ulang.
“Dengan sistem integrasi tarif, penumpang cukup melakukan satu kali pembayaran untuk menggunakan beberapa layanan yang terhubung,” jelasnya.
Adapun tarif yang direncanakan cukup terjangkau, yakni sekitar Rp1.000 bagi pelajar dan Rp2.500 untuk masyarakat umum.
Selain itu, aspek ketepatan waktu menjadi perhatian utama, dengan pengaturan jadwal kedatangan armada agar waktu tunggu penumpang tetap singkat.
“Ke depan, armada akan tetap beroperasi sesuai jadwal tanpa harus menunggu penuh. Waktu tunggu ditargetkan hanya sekitar satu hingga dua menit,” tutupnya.
Melalui program ini, Dishub berharap dapat mengurangi kemacetan, menekan praktik parkir liar, serta mendorong peralihan masyarakat menuju penggunaan transportasi publik. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar