Kondisi ini berbeda dengan sejumlah daerah lain, khususnya di Pulau Jawa, yang memanfaatkan sumber air dari kawasan pegunungan.
Perbedaan sumber air tersebut membuat proses pengolahan di Samarinda memerlukan perlakuan khusus, termasuk kegiatan pemeliharaan rutin berupa pengurasan instalasi. Proses ini kerap berdampak pada gangguan distribusi air kepada pelanggan dalam waktu tertentu.
“Karakteristik air baku yang berasal dari sungai mengharuskan adanya pemeliharaan berkala melalui pengurasan instalasi, yang berbeda dengan pengelolaan sumber air dari pegunungan,” jelasnya.
Menanggapi keluhan masyarakat terkait kualitas air yang keruh serta gangguan distribusi, Andi menegaskan bahwa pemerintah bersama Perumdam terus melakukan pembenahan secara bertahap.
“Gangguan layanan tidak dapat dihindari saat proses pengurasan berlangsung. Namun, dengan peningkatan kinerja yang terus dilakukan, kami optimistis berbagai kendala tersebut dapat diselesaikan secara bertahap di masa mendatang,” tegasnya. (*/Adv Diskominfo Samarinda)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar