BorneoFlash.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar AS.
Ia juga menjelaskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal warga desa yang tidak menggunakan dolar AS hanya untuk menghibur masyarakat pedesaan.
Purbaya meminta masyarakat tidak salah memahami ucapan Presiden Prabowo. Menurutnya, Presiden sangat memahami kondisi ekonomi nasional saat rupiah menyentuh Rp17.600 per dolar AS.
Ia menjelaskan pemerintah sengaja menggunakan bahasa sederhana agar masyarakat desa lebih mudah memahami situasi ekonomi.
Purbaya menilai penjelasan teknis seperti imported inflation atau inflasi barang impor akan sulit dipahami masyarakat awam jika disampaikan secara detail.
Purbaya juga memastikan fundamental ekonomi dan fiskal Indonesia masih terjaga dengan baik. Ia menegaskan kondisi APBN tetap sehat meski sejumlah pihak sempat meragukan kinerja fiskal pemerintah.
Pemerintah, lanjut Purbaya, tidak hanya mengandalkan belanja negara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga aktif menggerakkan sektor swasta agar ekonomi nasional terus tumbuh di tengah tekanan global.
Strategi tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen pada triwulan I-2026. Belanja masyarakat menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 2,9 persen, diikuti investasi sebesar 1,7 persen dan belanja pemerintah sebesar 1,3 persen.
Purbaya menilai daya beli masyarakat masih kuat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga menyebut capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 sebagai prestasi besar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurutnya, reformasi dan kebijakan pemerintah yang dijalankan lebih awal berhasil memperkuat ekonomi nasional sebelum gejolak global terjadi. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar