Maslihuddin mengungkapkan, kepadatan lalu lintas kapal, terutama tongkang batu bara, menjadi faktor dominan meningkatnya risiko kecelakaan. Dalam periode Februari 2025 hingga Maret 2026, tercatat enam kejadian tabrakan terjadi di lokasi yang sama.
Insiden terbaru terjadi pada 8 Maret 2026, ketika sebuah tongkang kembali menghantam bagian pelindung (fender) Jembatan Mahakam I. Peristiwa ini semakin menambah daftar panjang kecelakaan yang berpotensi merusak struktur jembatan tersebut.
“Sebagian besar kejadian melibatkan tongkang bermuatan batu bara. Hal ini menjadi perhatian serius karena selain membahayakan keselamatan pelayaran, juga berpotensi merusak struktur jembatan yang tergolong sebagai objek vital,” jelasnya.
Tidak hanya di Jembatan Mahakam I, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Jembatan Mahakam Ulu yang mengalami dua insiden tabrakan dalam kurun dua pekan pada awal 2026. Fakta ini mempertegas bahwa aspek keselamatan pelayaran di Sungai Mahakam perlu mendapat perhatian serius.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemprov Kaltim juga melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan regulasi jalur pelayaran.
Penataan ulang rute kapal dinilai penting agar lebih menyesuaikan dengan kondisi lalu lintas sungai yang terus berkembang.
“Kami tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga melakukan peninjauan terhadap regulasi rute pelayaran agar lebih relevan dengan kondisi aktual di lapangan serta mampu menekan potensi kecelakaan,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar