Pemprov Kaltim

Jaga Keamanan Jembatan Mahakam, Pembangunan Dolphin Tambat Diprioritaskan

lihat foto
Jembatan Mahakam Samarinda. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Jembatan Mahakam Samarinda. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah strategis dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dolphin tambat di perairan Sungai Mahakam.

Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi potensi kecelakaan kapal, khususnya di area bawah Jembatan Mahakam yang selama ini dikenal rawan terjadi tabrakan tongkang.

Tingginya angka insiden menjadi latar belakang percepatan tersebut. Hingga Maret 2026, Jembatan Mahakam I tercatat telah mengalami sedikitnya 24 kali tabrakan, yang sebagian besar melibatkan tongkang pengangkut batu bara.

Kondisi ini dinilai mengancam keselamatan pelayaran sekaligus keberlangsungan infrastruktur vital di wilayah tersebut.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayaran Dinas Perhubungan Kaltim, Ahmad Maslihuddin, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan dolphin tambat menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah dalam meningkatkan keamanan lalu lintas sungai.

“Pemerintah memprioritaskan peningkatan kelancaran arus kapal di titik paling rawan, khususnya di bawah Jembatan Mahakam, melalui penguatan fasilitas pendukung sistem pengaturan pergerakan kapal,” ujarnya, pada Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa fungsi dolphin tambat tidak terbatas sebagai tempat sandar, tetapi juga berperan sebagai elemen pengaman tambahan untuk membantu mengarahkan kapal agar tetap berada pada jalur aman saat melintasi bawah jembatan.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, otoritas pelabuhan, hingga aparat penegak hukum di bidang perairan.


Pembahasan difokuskan pada penataan jalur pelayaran agar lebih tertib dan terstruktur di Sungai Mahakam.

Maslihuddin mengungkapkan, kepadatan lalu lintas kapal, terutama tongkang batu bara, menjadi faktor dominan meningkatnya risiko kecelakaan. Dalam periode Februari 2025 hingga Maret 2026, tercatat enam kejadian tabrakan terjadi di lokasi yang sama.

Insiden terbaru terjadi pada 8 Maret 2026, ketika sebuah tongkang kembali menghantam bagian pelindung (fender) Jembatan Mahakam I. Peristiwa ini semakin menambah daftar panjang kecelakaan yang berpotensi merusak struktur jembatan tersebut.

“Sebagian besar kejadian melibatkan tongkang bermuatan batu bara. Hal ini menjadi perhatian serius karena selain membahayakan keselamatan pelayaran, juga berpotensi merusak struktur jembatan yang tergolong sebagai objek vital,” jelasnya.

Tidak hanya di Jembatan Mahakam I, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Jembatan Mahakam Ulu yang mengalami dua insiden tabrakan dalam kurun dua pekan pada awal 2026. Fakta ini mempertegas bahwa aspek keselamatan pelayaran di Sungai Mahakam perlu mendapat perhatian serius.

Selain pembangunan infrastruktur, Pemprov Kaltim juga melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan regulasi jalur pelayaran.

Penataan ulang rute kapal dinilai penting agar lebih menyesuaikan dengan kondisi lalu lintas sungai yang terus berkembang.

“Kami tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga melakukan peninjauan terhadap regulasi rute pelayaran agar lebih relevan dengan kondisi aktual di lapangan serta mampu menekan potensi kecelakaan,” pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar