“Kami mendorong agar seluruh dapur MBG di Kalimantan Timur dapat segera dituntaskan. Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional terus kami lakukan untuk mempercepat realisasi tersebut,” tegasnya.
Seno berharap, pada pertengahan tahun 2026 mendatang, seluruh dapur MBG di Kalimantan Timur sudah dapat terbangun dan beroperasi secara optimal. Ia menilai percepatan tersebut penting agar manfaat program dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Dalam satu tahun pelaksanaannya, program MBG yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto tersebut juga dinilai masih memiliki sejumlah catatan evaluasi di Kaltim. Salah satu persoalan utama adalah ketimpangan sebaran program, khususnya di wilayah Mahakam Ulu.
Hingga kini, Kabupaten Mahakam Ulu diketahui belum tersentuh program MBG. Padahal, wilayah tersebut termasuk dalam kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang membutuhkan perhatian lebih dalam implementasi program nasional.
Menurut Seno, kondisi geografis dan faktor ketersediaan bahan pangan menjadi tantangan utama di wilayah tersebut. Oleh karena itu, BGN saat ini tengah melakukan evaluasi langsung di lapangan.
“BGN sedang melakukan evaluasi, termasuk menurunkan tim ke Mahakam Ulu. Hal ini berkaitan dengan faktor harga serta ketersediaan bahan pangan seperti sayur-mayur dan kebutuhan lainnya,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar