Kedua tokoh ini saling melengkapi dalam pemaknaan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Ki Hajar Dewantara menekankan aspek kultural dan kemanusiaan yang berakar pada nilai-nilai lokal dan moral, sedangkan Paulo Freire menambahkan dimensi kritis dan pembebasan yang mendorong manusia untuk tidak pasif, melainkan aktif mengubah dirinya dan lingkungannya.
Dalam konteks pendidikan masa kini, memanusiakan manusia berarti mengintegrasikan kedua pendekatan ini—menghormati martabat setiap individu, mengembangkan potential dirinya, dan sekaligus membekali kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi tantangan kehidupan modern.
Secara praksis, pendidikan yang berlandaskan pada manusia sebagai dasar harus menciptakan ruang-ruang belajar yang inklusif dan demokratis, mendorong refleksi diri dan tumbuhnya kesadaran sosial.
Pendidikan juga harus memfasilitasi proses pengembangan karakter, kemandirian, dan empati terhadap sesama manusia. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga bermoral, mempunyai integritas, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Singkatnya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memanusiakan manusia—menjadikan peserta didik sebagai pribadi yang utuh dan bermartabat, memahami dan mengembangkan dirinya secara holistik.
Dasar pendidikan yang menganggap manusia sebagai pusatnya akan membentuk pendidikan yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga karakter, kebebasan, dan kekuatan untuk melakukan perubahan sosial yang bermakna.
Ini adalah warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire yang hingga kini relevan menjadi pijakan dalam merancang sistem pendidikan yang humanistik dan transformatif. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd Profesi: Guru No WhatsApp: 085792185490 Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar