BorneoFlash.com, OPINI - Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses yang berfokus pada manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembelajaran. Dasar pendidikan adalah manusia itu sendiri, bukan sekadar isi atau materi yang diajarkan.
Hal ini menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia—mengembangkan segala potensi kemanusiaan dalam diri peserta didik agar menjadi pribadi yang utuh dan bermartabat.
Konsep memanusiakan manusia dalam pendidikan menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan yang harus berkembang seimbang, serta diberi ruang kebebasan untuk bertindak dan memilih secara sadar.
Pendidikan yang memanusiakan manusia juga berarti memberi kesempatan kepada setiap individu untuk menemukan kesempurnaan kemanusiaannya melalui pengembangan nilai-nilai moral, kecerdasan, serta pengendalian diri.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, sangat menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Menurut beliau, pendidikan harus mampu menghormati harkat dan martabat peserta didik serta mengembangkan potensi yang ada di dalamnya sesuai dengan kodrat manusia.
Metode Pendidikan Among yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara mengedepankan suasana belajar yang manusiawi, di mana guru bertindak sebagai fasilitator dan teladan, bukan sekadar penguasa ilmu. Suasana belajar yang kondusif dan penuh rasa hormat akan menciptakan peserta didik yang merdeka, bertanggung jawab, dan mampu berperan aktif dalam masyarakat.
Sementara itu, Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan dan tokoh pembebasan, menyatakan bahwa pendidikan adalah proses pemerdekaan manusia dari penindasan melalui kesadaran kritis. Dalam pandangan Freire, pendidikan haruslah dialogis dan partisipatif, memungkinkan peserta didik untuk menjadi subjek yang aktif dalam proses belajar dan mengubah realitas sosialnya.
Ia menolak model pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai "banking model" yang hanya menerima pengetahuan secara pasif. Pendidikan yang memanusiakan menurut Freire adalah pendidikan yang membebaskan, memupuk kesadaran kritis, dan mendorong tindakan nyata untuk perubahan sosial yang lebih baik.
Kedua tokoh ini saling melengkapi dalam pemaknaan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Ki Hajar Dewantara menekankan aspek kultural dan kemanusiaan yang berakar pada nilai-nilai lokal dan moral, sedangkan Paulo Freire menambahkan dimensi kritis dan pembebasan yang mendorong manusia untuk tidak pasif, melainkan aktif mengubah dirinya dan lingkungannya.
Dalam konteks pendidikan masa kini, memanusiakan manusia berarti mengintegrasikan kedua pendekatan ini—menghormati martabat setiap individu, mengembangkan potential dirinya, dan sekaligus membekali kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi tantangan kehidupan modern.
Secara praksis, pendidikan yang berlandaskan pada manusia sebagai dasar harus menciptakan ruang-ruang belajar yang inklusif dan demokratis, mendorong refleksi diri dan tumbuhnya kesadaran sosial.
Pendidikan juga harus memfasilitasi proses pengembangan karakter, kemandirian, dan empati terhadap sesama manusia. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga bermoral, mempunyai integritas, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Singkatnya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memanusiakan manusia—menjadikan peserta didik sebagai pribadi yang utuh dan bermartabat, memahami dan mengembangkan dirinya secara holistik.
Dasar pendidikan yang menganggap manusia sebagai pusatnya akan membentuk pendidikan yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga karakter, kebebasan, dan kekuatan untuk melakukan perubahan sosial yang bermakna.
Ini adalah warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire yang hingga kini relevan menjadi pijakan dalam merancang sistem pendidikan yang humanistik dan transformatif. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd Profesi: Guru No WhatsApp: 085792185490 Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar