Berita Samarinda Terkini

Ruang Belajar Tak Memadai, SMPN 13 Samarinda Harap Perhatian Pemerintah

lihat foto
Salah satu kelas yang memprihatinkan di SMP 13 Samarinda Utara. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa
Salah satu kelas yang memprihatinkan di SMP 13 Samarinda Utara. Foto: BorneoFlash.com/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA - SMP Negeri 13 Samarinda Utara, yang berlokasi di Jalan Sukorejo No. 37, Kelurahan Lempake, merupakan salah satu sekolah favorit di wilayah tersebut.

Setiap tahun, jumlah pendaftar di sekolah ini meningkat, seiring dengan bertambahnya kawasan permukiman baru di sekitar Lempake, termasuk Perumahan Korem dan sejumlah kompleks lainnya.

Namun di balik tingginya animo masyarakat, kondisi infrastruktur sekolah justru memprihatinkan.

Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan cukup parah, tetapi tetap dimanfaatkan karena terbatasnya ruang belajar.

Berdasarkan pantauan di lapangan, salah satu ruang kelas yang paling terdampak adalah kelas VIII-H, yang terletak dekat ruang guru dan gudang sekolah.

Dinding berwarna hijau tosca di bagian bawah tampak mengelupas akibat sering terendam banjir saat musim hujan.

Lantai semen di beberapa sudut kelas pun mengalami kerusakan.

Air yang masuk membawa pasir, yang kemudian mengering menjadi debu dan membuat ruangan cepat kotor.

Kerusakan juga terlihat pada jendela yang terlepas dari engsel serta plafon yang jebol dan sebagian lapuk.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas belajar tetap berlangsung.

Meja dan kursi berbahan kayu masih digunakan, bahkan beberapa siswa terlihat harus mengipas diri dengan buku karena kipas angin jarang digunakan khawatir debu beterbangan saat dinyalakan.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMPN 13 Samarinda, Suhadiyono, menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat segera memberikan bantuan untuk perbaikan fasilitas sekolah.


“Ada beberapa ruang kelas yang kondisinya memang sudah tidak layak dan sangat perlu diperbaiki,”kata Suhadiyono saat ditemui, pada Selasa (15/7/2025).

Menurutnya, setidaknya ada dua ruang kelas yang kerusakannya tergolong berat.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang, pihak sekolah bahkan terpaksa memanfaatkan laboratorium IPA sebagai ruang belajar.

Aula sekolah pun disekat menjadi tiga bagian, meskipun saat ini hanya satu ruang yang masih dapat digunakan.

Dua lainnya difungsikan sebagai gudang penyimpanan meja dan kursi yang sudah rusak.

“Karena jumlah siswa terus bertambah, kami terpaksa menambah kapasitas per kelas sampai 34 orang,”ujarnya.

Selain ruang kelas, kondisi lapangan sekolah juga menjadi persoalan. Lapangan yang masih berupa tanah menimbulkan debu saat musim kemarau dan menjadi becek ketika hujan turun.

Pihak sekolah berharap lapangan tersebut dapat disemenisasi agar lebih layak digunakan untuk kegiatan olahraga dan aktivitas luar kelas.

“Kami berharap lapangan bisa disemen agar nyaman dipakai,”tambahnya.

Setiap kali banjir melanda, siswa dan guru harus bergotong royong membersihkan lumpur dan pasir dari ruang kelas.

Jika kondisinya sudah terlalu parah, pihak sekolah bahkan harus meminta bantuan petugas pemadam kebakaran untuk membersihkan menggunakan alat semprot.

“Kadang-kadang kami harus minta bantuan pemadam kebakaran karena kalau sudah lengket, tidak bisa dibersihkan manual,”pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar