Ia menjelaskan, Hantavirus dapat menular melalui paparan urine maupun kotoran hewan pengerat yang mencemari permukaan benda di sekitar rumah. Situasi itu rawan terjadi setelah banjir surut ketika masyarakat mulai kembali beraktivitas normal.
Dinkes Kaltim pun mengimbau masyarakat untuk menjaga sanitasi lingkungan, rutin membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus, serta menerapkan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas.
“Langkah utama yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas,” tuturnya.
Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga diminta lebih peka terhadap gejala awal penyakit. Sebab, gejala Hantavirus kerap menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah maupun tifus.
“Gejala awalnya cukup mirip dengan beberapa penyakit lain, seperti demam, tubuh terasa tidak nyaman, hingga nyeri tenggorokan. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada,” jelasnya.
Gejala berupa demam, tubuh lemas, dan sakit tenggorokan disebut dapat menjadi tanda awal yang sering diabaikan. Kondisi tersebut dikhawatirkan menyebabkan keterlambatan penanganan apabila penderita tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Untuk mendukung deteksi dini, Dinkes Kaltim terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Pemantauan dilakukan secara berkala setiap pekan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit menular.
“Evaluasi dilakukan setiap minggu. Apabila ditemukan indikasi tertentu, penanganan dapat segera dilakukan dengan lebih cepat,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar