Pemprov Kaltim

Pascabanjir Tingkatkan Risiko Penyakit, Dinkes Kaltim Antisipasi Ancaman Hantavirus

lihat foto
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Kondisi lingkungan usai banjir di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim. 

Meningkatnya aktivitas hewan pengerat di kawasan permukiman dinilai berpotensi memicu penyebaran penyakit, termasuk Hantavirus.

Walau sampai sekarang belum ditemukan kasus Hantavirus di Kalimantan Timur, Dinkes meminta pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan sejak dini. 

Langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat terkait kesiapsiagaan terhadap penyakit berbasis lingkungan.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh daerah agar memperhatikan potensi penyebaran penyakit pascabanjir, terutama yang berkaitan dengan keberadaan tikus di lingkungan warga.

“Memang belum ada laporan kasus di Kalimantan Timur. Namun, kami telah meminta seluruh kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan sebagai langkah antisipasi,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, banjir sering kali menyebabkan perpindahan hewan pengerat ke area permukiman sehingga risiko kontaminasi lingkungan menjadi lebih besar. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan kebersihan lingkungan rumah.

“Setelah banjir, aktivitas tikus biasanya meningkat. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena masyarakat tidak selalu mengetahui apakah lingkungannya telah terpapar kontaminasi atau belum,” katanya.


Ia menjelaskan, Hantavirus dapat menular melalui paparan urine maupun kotoran hewan pengerat yang mencemari permukaan benda di sekitar rumah. Situasi itu rawan terjadi setelah banjir surut ketika masyarakat mulai kembali beraktivitas normal.

Dinkes Kaltim pun mengimbau masyarakat untuk menjaga sanitasi lingkungan, rutin membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus, serta menerapkan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas.

“Langkah utama yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas,” tuturnya.

Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga diminta lebih peka terhadap gejala awal penyakit. Sebab, gejala Hantavirus kerap menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah maupun tifus.

“Gejala awalnya cukup mirip dengan beberapa penyakit lain, seperti demam, tubuh terasa tidak nyaman, hingga nyeri tenggorokan. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada,” jelasnya.

Gejala berupa demam, tubuh lemas, dan sakit tenggorokan disebut dapat menjadi tanda awal yang sering diabaikan. Kondisi tersebut dikhawatirkan menyebabkan keterlambatan penanganan apabila penderita tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Untuk mendukung deteksi dini, Dinkes Kaltim terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Pemantauan dilakukan secara berkala setiap pekan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit menular.

“Evaluasi dilakukan setiap minggu. Apabila ditemukan indikasi tertentu, penanganan dapat segera dilakukan dengan lebih cepat,” pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar