BorneoFlash.com, SAMARINDA – Perubahan cuaca yang terjadi di Kota Samarinda dalam beberapa waktu terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran.
Di tengah prakiraan musim kemarau panjang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan deras masih kerap turun di sejumlah wilayah dan memicu genangan di beberapa titik kota.
Situasi tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga banjir akibat cuaca ekstrem pada masa peralihan musim.
Plt Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026 dan telah mulai dirasakan sejak Maret lalu.
“Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang dan kondisi tersebut sebenarnya sudah mulai berlangsung sejak Maret,” ujarnya, pada Sabtu (16/5/2026).
Namun demikian, ia menjelaskan karakteristik geografis Samarinda yang berada di kawasan garis khatulistiwa menyebabkan hujan masih berpotensi terjadi meskipun wilayah tersebut memasuki musim kemarau.
“Walaupun diprediksi mengalami kemarau panjang maupun fenomena El Nino, posisi Samarinda yang berada di garis khatulistiwa membuat curah hujan masih mungkin terjadi pada periode kemarau,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat BPBD harus bersiap menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni potensi kebakaran lahan akibat cuaca panas serta risiko banjir dan genangan saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Samarinda bersama instansi terkait telah melakukan berbagai persiapan, termasuk menggelar gladi kesiapsiagaan bencana di tingkat kota maupun provinsi.
“Dalam menghadapi musim kemarau, beberapa hari terakhir kami telah melaksanakan gladi kesiapsiagaan bencana, baik di tingkat kota maupun provinsi,” tuturnya.
Selain itu, BPBD juga mulai menyiapkan peralatan penanganan kebakaran serta memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Pemadam Kebakaran, relawan kebencanaan, hingga Desa Tangguh Bencana.
“Kami telah mempersiapkan sarana pendukung dan membangun kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah, Damkar, relawan, serta Desa Tangguh Bencana,” jelasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar