Suhu Meningkat, BPBD Samarinda Ingatkan Bahaya Kebakaran Lahan Saat Kemarau

oleh -
Penulis: Nur Ainunnisa
Editor: Ardiansyah
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai meningkatkan kesiapsiagaan. 

 

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus dampak suhu tinggi terhadap kesehatan masyarakat.

 

Periode kemarau diprediksi terjadi sejak April hingga Oktober, bahkan disebut datang lebih awal dari biasanya. 

 

Kondisi tersebut mulai dirasakan dengan meningkatnya suhu udara dalam beberapa waktu terakhir, yang menjadi salah satu indikator awal meningkatnya risiko bencana, khususnya kebakaran lahan di sejumlah wilayah.

 

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menyampaikan bahwa informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya pergeseran pola musim yang menyebabkan kemarau datang lebih cepat dengan suhu yang cenderung lebih tinggi.

 

“Ia menyampaikan bahwa berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan tiba lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum April suhu udara sudah mengalami peningkatan dan hal tersebut menjadi perhatian serius bagi pihaknya,” ujarnya, pada Selasa (31/3/2026).

 

Sejumlah kejadian kebakaran lahan skala kecil yang mulai muncul di beberapa titik dinilai sebagai tanda awal meningkatnya potensi karhutla. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD provinsi, serta relawan di seluruh wilayah kota.

 

“Ia menjelaskan bahwa seluruh personel beserta peralatan telah disiapkan, termasuk pelibatan relawan guna mendukung penanganan awal apabila terjadi kebakaran di lapangan,” katanya.

 

Dalam penanganan karhutla, keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran masih menjadi kendala utama, khususnya di kawasan lahan terbuka seperti semak dan ilalang. Oleh karena itu, pembangunan embung atau penampungan air dinilai menjadi solusi penting guna mempercepat proses pemadaman.

Baca Juga :  17 Ribu Lebih Jamaah Haji Kota Balikpapan Tunggu Keberangkatan Hingga 34 Tahun Kedepan 

 

“Ia menuturkan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan keterbatasan air sering menjadi hambatan utama saat pemadaman, sehingga keberadaan embung sangat diperlukan sebagai sumber air alternatif,” jelasnya.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.