Secara ekonomi, kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan pelaku usaha kecil. Kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual dapat mengurangi daya tahan usaha, terutama bagi perajin skala rumah tangga.
Bustani menambahkan, faktor eksternal menjadi salah satu penyebab utama terjadinya fluktuasi harga kedelai. Perubahan kondisi geopolitik dan geoekonomi global turut memengaruhi rantai pasok dan distribusi komoditas.
“Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan geoekonomi global yang berdampak secara luas. Karena itu, kami fokus mengumpulkan data sebagai dasar pengambilan kebijakan,” bebernya.
Sebagai langkah lanjutan, Disperindag Kukar berencana menyampaikan kondisi di daerah kepada pemerintah pusat guna memperoleh arahan kebijakan yang lebih komprehensif.
“Kami juga akan melaporkan kondisi di daerah kepada pemerintah pusat dan saat ini masih menunggu respons, mengingat kejadiannya berskala nasional,” lanjutnya.
Ke depan, pemerintah daerah diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu menjaga stabilitas harga serta keberlanjutan usaha kecil di tengah fluktuasi pasar.
“Kami akan terus berupaya mencarikan solusi terbaik, agar para perajin tetap bisa berproduksi dan dampak kenaikan harga ini tidak semakin memberatkan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar