BorneoFlash.com, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah hampir merampungkan pembahasan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax Series.
Bahlil menegaskan pemerintah akan menyesuaikan harga BBM sesuai regulasi yang berlaku, yakni Kepmen ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 yang mengacu pada mekanisme harga pasar.
“Penyesuaian tinggal menentukan waktu pelaksanaannya. Berdasarkan rapat dengan Pertamina dan badan usaha swasta, prosesnya hampir selesai,” ujar Bahlil di Jakarta.
Ia menjelaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti formula harga minyak dunia untuk menjaga kesesuaian dengan kondisi pasar.
Saat ini, Pertamina bersama Shell, Vivo, dan bp masih menahan harga BBM nonsubsidi sejak April 2026, meski harga minyak global naik akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent dan WTI tercatat berada di kisaran 90–100 dolar AS per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Januari 2026 yang sekitar 64 dolar AS per barel.
Pemerintah sebelumnya memutuskan tidak menaikkan harga BBM setelah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan PT Pertamina sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah memastikan pasokan BBM nasional tetap aman dan meminta masyarakat tidak panik terhadap isu kenaikan harga.
Namun, penahanan harga tersebut menimbulkan selisih biaya pengadaan dan harga jual di tengah kenaikan harga minyak dunia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Pertamina sementara menanggung selisih harga BBM nonsubsidi sampai pemerintah menetapkan penyesuaian harga baru. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar