BorneoFlash.com, KUKAR - Lonjakan harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir mulai memengaruhi struktur biaya produksi pelaku usaha di Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya industri kecil pengolah tempe.
Kenaikan ini tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti tren yang terjadi secara nasional, bahkan berkaitan dengan dinamika pasar global yang memengaruhi pasokan dan harga komoditas pangan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) saat ini masih melakukan pemetaan kondisi pasar sebelum menentukan langkah intervensi.
Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Produk Dalam Negeri dan Pengendalian Barang Pokok Disperindag Kukar, Bustani, mengatakan pengumpulan data menjadi langkah awal untuk membaca skala dampak yang terjadi.
“Kami masih melakukan koordinasi terkait kenaikan harga kedelai ini, karena kondisinya terjadi secara nasional. Jadi, kami sedang menyiapkan langkah-langkah yang akan diambil ke depan,” ucap Bustani, pada Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga kedelai turut berdampak pada meningkatnya biaya produksi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan adanya kenaikan pada komponen pendukung lainnya.
“Untuk saat ini memang belum ada intervensi harga dalam waktu dekat, karena kami masih mengumpulkan data-data terlebih dahulu. Kenaikan ini juga tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga pada bahan lain seperti plastik,” jelasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar