“Ia mengharapkan laporan yang disampaikan masyarakat bersifat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak menimbulkan kesalahan informasi yang justru menghambat proses penanganan,” tambahnya.
Berdasarkan hasil pemetaan, beberapa wilayah di Samarinda seperti Palaran, Sambutan, Sungai Kunjang, hingga Loa Janan masuk kategori rawan karhutla karena didominasi lahan terbuka.
Area tersebut menjadi fokus pemantauan dengan melibatkan relawan serta desa tangguh bencana (destana) dalam upaya mitigasi awal.
“Ia menegaskan bahwa relawan dan destana didorong untuk melakukan penanganan dini agar api tidak meluas sebelum petugas utama tiba di lokasi,” tuturnya.
Selain potensi kebakaran, suhu udara yang mencapai sekitar 34 derajat Celsius juga menjadi perhatian karena berisiko menimbulkan gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan iritasi kulit.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh serta mencukupi kebutuhan cairan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
“Ia mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan di tengah suhu tinggi, agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu akibat dehidrasi maupun kelelahan,” lanjutnya.
Meski demikian, BMKG masih memprediksi adanya peluang hujan selama periode kemarau, meskipun dengan intensitas yang relatif rendah. Kondisi ini diharapkan dapat membantu menekan risiko kebakaran di beberapa wilayah.
“Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla merupakan tanggung jawab bersama, sehingga dengan sinergi seluruh pihak diharapkan risiko kebakaran dapat ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar