“Secara objektif harus diakui bahwa capaian ini belum dapat dikatakan aman. Angka 22,2 persen masih terlalu tinggi bagi Kalimantan Timur,” ujar Seno Aji, pada Selasa (16/12/2025).
Ia menekankan pentingnya penguatan intervensi sejak fase paling krusial, yakni 1.000 hari pertama kehidupan.
Menurutnya, pemantauan kehamilan, skrining kekurangan energi kronis, pemberian makanan tambahan, serta edukasi perubahan perilaku harus dijalankan secara konsisten dan terintegrasi.
“Tidak boleh ada ibu hamil yang luput dari pemantauan. Tanpa pemeriksaan rutin, potensi risiko tidak akan terdeteksi sejak dini,” tegasnya.
Selain itu, Pemprov Kaltim juga berkomitmen memperkuat koordinasi lintas daerah melalui rapat rutin setiap bulan.
Seno menegaskan bahwa evaluasi kinerja tidak boleh berhenti pada laporan administratif semata, melainkan harus berujung pada tindakan nyata.
“Setiap pertemuan harus menghasilkan langkah konkret. Progres harus diukur secara berkala dan dilaporkan secara jujur mengenai apa saja yang masih perlu dibenahi,” pungkasnya.





