Menurutnya, aksi Mahakam merupakan pengingat penting bagi para wakil rakyat agar tidak mengabaikan suara masyarakat.
“Tugas kami adalah menjembatani kepentingan masyarakat daerah dengan pemerintah pusat. Kami tidak boleh menutup mata terhadap hal ini,” ujarnya.
Kehadiran pimpinan dewan di tengah massa membuat situasi berangsur kondusif.
Demonstran yang semula mendorong pagar dan mendesak gerbang dibuka, akhirnya bersedia duduk di badan jalan untuk mendengarkan penyampaian langsung dari para legislator.
Momen dialog terbuka itu menjadi bukti bahwa komunikasi antara mahasiswa dan lembaga legislatif masih bisa dijalankan, meskipun melalui jalur demonstrasi.
Meski begitu, sejumlah mahasiswa tetap menyuarakan peringatan agar janji dewan tidak hanya berhenti di pernyataan lisan.
Mereka mendesak adanya tindak lanjut nyata berupa dokumen resmi yang bisa dipantau publik.
“Kami tidak ingin hanya mendengar janji manis. Kami menuntut bukti tertulis bahwa aspirasi rakyat Kaltim benar-benar disampaikan ke pemerintah pusat,” ujar salah satu koordinator aksi.
Hingga sore hari, massa masih bertahan di kawasan Jalan Teuku Umar dengan orasi bergantian.
Suasana demonstrasi pun mulai menurun intensitasnya.
Di sisi lain, pedagang kaki lima yang berada di sekitar lokasi ramai dikunjungi warga yang datang menyaksikan jalannya aksi.
Aparat kepolisian tetap siaga di barisan depan pagar DPRD Kaltim dan sejumlah titik lainnya, guna memastikan jalannya demonstrasi tetap tertib hingga usai. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar