“Pendidikan adalah kunci untuk mengubah bonus demografi menjadi kekuatan ekonomi. Tanpa ijazah dan keterampilan yang memadai, generasi usia produktif berisiko menjadi beban, bukan aset,”ujarnya.
Kepada para pendidik, ia mengingatkan agar pembelajaran tidak semata berorientasi pada akademik, melainkan juga menjadikan pembinaan karakter sebagai amanat moral sekaligus kewajiban konstitusional.
Sementara itu, para orang tua diminta mendukung penuh agar anak-anak dapat menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh.
Kebahagiaan juga dirasakan para siswa yang terpilih. Safira Mulia, putri seorang penjual gorengan, mengungkapkan rasa syukurnya dapat bergabung di sekolah ini.
“Alhamdulillah, saya sangat senang. Semua perlengkapan untuk tinggal di asrama sudah saya siapkan,”ucapnya.
Hal serupa disampaikan Miftahul Jannah, anak seorang pekerja katering, yang tak sabar memulai pengalaman baru tinggal di asrama.
“Saya merasa gembira dan bersemangat. Ini akan menjadi pengalaman berbeda karena tidak tinggal bersama keluarga lagi,”tuturnya. (*)






