Dua daerah ini memiliki angka kemiskinan cukup tinggi, masing-masing sebesar 11 persen dan 9,8 persen, sehingga menjadi fokus utama dalam seleksi penerima manfaat.
Penyaluran beasiswa dilakukan langsung ke rekening masing-masing mahasiswa.
Program ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai hasil evaluasi akademik.
“Sifat beasiswanya per semester. Kalau IPK turun, bisa saja tahun depan tidak lagi menerima. Evaluasinya dilakukan berkala,”jelasnya.
Tahun ini, kuota beasiswa untuk mahasiswa Kaltim di luar daerah hanya sekitar 800 penerima.
Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan total penerima bantuan pendidikan di dalam daerah yang mencapai lebih dari 33 ribu mahasiswa.
“Kami ingin agar peluang beasiswa ini benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas SDM di Kalimantan Timur,”pungkas Dasmiah. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar