BorneoFlash.com, JAKARTA - Indonesia mendorong digitalisasi perdagangan dan ekonomi hijau sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi kawasan dalam Forum Pertemuan Menteri Perdagangan APEC 2026 di Suzhou.
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan negara-negara anggota APEC harus memperkuat kerja sama menghadapi ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok dunia.
Menurut Roro, transformasi digital dan transisi hijau kini membentuk pola baru perdagangan dan investasi global. Indonesia pun terus mempercepat pengembangan ekonomi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara.
Pemerintah mengembangkan inisiatif TradeAI guna menyederhanakan proses kepabeanan, menekan biaya logistik, dan mempercepat perdagangan internasional.
Indonesia juga memperluas infrastruktur digital, meningkatkan keterampilan digital, serta mendorong UMKM masuk ke pasar global melalui program UMKM Go Digital dan UMKM BISA Ekspor.
“Pengembangan AI harus mengutamakan kepercayaan, keamanan, dan inklusivitas,” ujar Roro.
Selain digitalisasi, Indonesia terus memperkuat ekonomi hijau melalui hilirisasi mineral kritis dan pengembangan industri baterai serta kendaraan listrik (EV).
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mendorong pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan sumber daya manusia.
Indonesia juga telah meratifikasi Paris Agreement dan berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2030.
Sebagai calon pusat industri EV di kawasan ASEAN, Indonesia mendukung penguatan kerja sama rantai pasok kendaraan listrik melalui APEC EV Supply Chain.
Melalui Forum APEC MRT 2026, Indonesia menegaskan komitmennya membangun perdagangan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan lewat percepatan digitalisasi dan ekonomi hijau. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar