Pendekatan yang dibawa tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada prinsip pengelolaan berbasis alam dan siklus air yang berkelanjutan, sehingga air dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Air harus menjadi sumber daya yang dikelola dengan bijak, bukan hanya mengalir begitu saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama yang sudah berjalan ini akan menghasilkan roadmap ketahanan air Balikpapan, yang memuat rencana jangka pendek, menengah, hingga panjang.
Roadmap tersebut juga akan mengidentifikasi program yang bisa segera dijalankan serta yang membutuhkan dukungan lebih luas dari pemerintah pusat, provinsi, sektor swasta, hingga masyarakat.
Dari sisi teknis, Jean-Martin Brault menilai Balikpapan memiliki tantangan serupa dengan Singapura di masa lalu, terutama terkait keterbatasan sumber air dan tekanan urbanisasi.

Menurutnya, pengalaman Singapura dalam mengatasi krisis air dapat menjadi referensi penting bagi Balikpapan untuk mempercepat transformasi.
“Dengan belajar dari pengalaman Singapura, proses di Balikpapan bisa dipersingkat dan lebih efisien,” ujarnya.
Namun ia menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di daerah. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar