BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Upaya memperkuat ketahanan air di Balikpapan memasuki tahap penting, melalui kolaborasi internasional bersama World Bank dan Singapore Water Center.
Kerja sama ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju pengelolaan air perkotaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Balikpapan, Murni, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari partisipasi Balikpapan dalam Singapore International Water Week.
Dalam forum tersebut, Balikpapan memaparkan tantangan utama seperti keterbatasan air baku dan risiko banjir yang masih dihadapi kota.
Respons positif dari Singapura dan Bank Dunia kemudian diwujudkan dalam bentuk dukungan teknis serta penguatan kapasitas bagi pemerintah daerah.
“Ini sangat membantu kami. Jika harus mendatangkan tenaga ahli sendiri, biayanya sangat besar. Bantuan ini menjadi langkah awal penting untuk mewujudkan mimpi Balikpapan menjadi kota dengan pengelolaan air yang lebih baik,” ujar Murni, disela-sela kegiatan Workshop dengan Bank Dunia, NUS Cities Singapore dan Singapore Water Center, di Aula Bappedalitbang Balikpapan, pada Rabu (6/5/2026).

Ia menambahkan, kerja sama ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan visi jangka panjang. Balikpapan mulai menyusun langkah bertahap menuju sistem pengelolaan air yang lebih modern dan terintegrasi.
Sementara itu, Senior Water Supply and Sanitation Specialist World Bank, Irma Magdalena Setiono, menjelaskan bahwa peran Singapore Water Center adalah menghubungkan pengalaman Singapura dengan kebutuhan pengelolaan air di Balikpapan.
Pendekatan yang dibawa tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada prinsip pengelolaan berbasis alam dan siklus air yang berkelanjutan, sehingga air dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Air harus menjadi sumber daya yang dikelola dengan bijak, bukan hanya mengalir begitu saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama yang sudah berjalan ini akan menghasilkan roadmap ketahanan air Balikpapan, yang memuat rencana jangka pendek, menengah, hingga panjang.
Roadmap tersebut juga akan mengidentifikasi program yang bisa segera dijalankan serta yang membutuhkan dukungan lebih luas dari pemerintah pusat, provinsi, sektor swasta, hingga masyarakat.
Dari sisi teknis, Jean-Martin Brault menilai Balikpapan memiliki tantangan serupa dengan Singapura di masa lalu, terutama terkait keterbatasan sumber air dan tekanan urbanisasi.

Menurutnya, pengalaman Singapura dalam mengatasi krisis air dapat menjadi referensi penting bagi Balikpapan untuk mempercepat transformasi.
“Dengan belajar dari pengalaman Singapura, proses di Balikpapan bisa dipersingkat dan lebih efisien,” ujarnya.
Namun ia menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di daerah. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar