Meski mengedepankan pendekatan humanis, kepolisian tetap mengingatkan adanya potensi kerawanan, terutama dalam aksi yang melibatkan massa besar. Kondisi emosional massa dinilai rentan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memicu konflik.
“Aksi yang melibatkan banyak pihak ini rawan disusupi kepentingan negatif. Kami minta peserta bisa menjaga diri dan memfilter setiap ajakan atau informasi,” ujarnya.
Di sisi lain, pengawasan tidak hanya dilakukan di lapangan. Polda Kaltim juga memperkuat patroli siber untuk mengantisipasi penyebaran hoaks yang berpotensi memperkeruh situasi.
“Media sosial saat ini sangat strategis dalam membentuk persepsi publik, apabila informasi yang beredar tidak benar, bisa berdampak pada stabilitas sosial,” jelasnya.
Kapolda juga mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam bermedia sosial serta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. "Kalimantan Timur secara umum dalam kondisi damai dan tertib," ungkapnya.
Dengan situasi Kalimantan Timur yang masih kondusif, kepolisian berharap pendekatan baru ini mampu menjaga stabilitas tanpa mengurangi ruang kebebasan berpendapat.
"Mari kita jaga bersama agar tidak terganggu oleh hal-hal kecil yang bisa merusak stabilitas,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar