BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Penutupan 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Balikpapan membuat distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara terhenti.
Namun di balik gangguan tersebut, pemerintah justru melihatnya sebagai langkah strategis, untuk meningkatkan kualitas layanan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Irfan Taufik, mengakui dampak penutupan tersebut cukup luas. Pasalnya, satu SPPG rata-rata melayani 3 hingga 4 sekolah.
"Penutupan ini berdampak pada siswa-siswi kita karena tidak mendapatkan jatah MBG. Ini berpengaruh," ujarnya pada Senin (13/4/2026).
Dengan jumlah tersebut, ribuan siswa tingkat SD dan SMP untuk sementara tidak menerima makanan bergizi gratis (MBG), yang sebelumnya menjadi bagian dari program peningkatan gizi pelajar.
Meski demikian, Irfan Taufik menilai kondisi ini sebagai momentum penting untuk pembenahan. Ia menyebut, penutupan SPPG berkaitan dengan persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), yang menjadi salah satu indikator utama dalam menjamin kualitas dan higienitas produksi makanan.
“Informasi dari Badan Gizi Nasional, ini terkait IPAL, artinya ada upaya peningkatan kualitas sumber MBG. Saya rasa ini bagus dalam rangka meningkatkan kualitas hasil makanan bergizi gratis,” jelasnya.
Menurutnya, langkah penertiban ini penting agar program MBG tidak hanya berjalan secara luas, tetapi juga memenuhi standar kesehatan yang layak dikonsumsi siswa.
Dampak terhadap kegiatan belajar mengajar dinilai masih terkendali. Penutupan SPPG terjadi bertepatan dengan jadwal tes kompetensi akhir siswa SD dan SMP yang berlangsung selama 10 hingga 15 hari ke depan.
“Kalau berpengaruh pasti berpengaruh, hanya saja momennya pas karena anak-anak sedang menghadapi tes kompetensi akhir,” katanya.
Momentum ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pembenahan SPPG tanpa mengganggu aktivitas belajar siswa secara signifikan.
Pemerintah Kota Balikpapan menargetkan kedepan program MBG tidak hanya menjangkau lebih banyak penerima, tetapi juga memiliki standar kualitas yang lebih ketat.
Dengan demikian, manfaat program tidak sekadar pada pemenuhan gizi, tetapi juga menjamin keamanan dan kesehatan makanan bagi peserta didik. (*/Adv Diskominfo Balikpapan)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar