E-Paper BorneoFlash.com

Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 9 Maret 2026: Dunia Memanas! Iran Bersumpah Lawan AS–Israel

lihat foto
Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 9 Maret 2026.
Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 9 Maret 2026.

BorneoFlash.com – Ketegangan global semakin memuncak setelah konflik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel terus meluas. Sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan konflik ini tidak hanya memicu aksi militer, tetapi juga protes internasional hingga potensi keterlibatan kekuatan besar dunia.

Gelombang demonstrasi anti-perang bahkan muncul di Jepang. Di kota Osaka, puluhan orang turun ke jalan pada Sabtu (7/3) dengan membawa spanduk dan memukul drum sambil mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Para demonstran membawa berbagai poster bertuliskan kecaman seperti “Kami mengutuk agresi AS dan Israel terhadap Iran”, “Kami mengutuk pemboman Iran oleh imperialisme Amerika”, hingga “Tidak untuk perang!”. Beberapa spanduk juga menyoroti dukungan pemerintah Jepang terhadap kebijakan Washington.

Aksi protes ini dilaporkan berlangsung hampir setiap hari di berbagai wilayah Jepang sejak akhir pekan lalu.

Konflik Memanas Setelah Serangan Besar

Ketegangan meningkat tajam sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target strategis di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil. Dalam operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama serangan. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.


Konflik ini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Iran, termasuk ratusan warga sipil dan pelajar, sementara ribuan serangan balasan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah kawasan. Iran Bersumpah Terus Melawan

Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menegaskan negaranya akan terus melakukan perlawanan hingga agresi dihentikan.

“Kami menjalankan hak melekat untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB hingga agresi barbar ini berhenti. Respons kami sah, perlu, dan proporsional,” ujarnya di markas besar PBB di New York.

Ia menegaskan Iran hanya menargetkan sasaran militer dan tidak bermaksud menyerang warga sipil atau negara tetangga.

“Iran tidak mencari perang dan tidak menginginkan eskalasi. Namun kami tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan kami,” katanya.

Ketegangan Selat Hormuz

Di tengah konflik yang memanas, Iran juga merespons rencana Amerika Serikat yang disebut akan mengerahkan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, bahkan menyatakan Iran siap menghadapi kehadiran konvoi militer Amerika.


“Kami menyambut kemungkinan pasukan AS mengawal kapal tanker melintasi Selat Hormuz. Kami menunggu kehadiran mereka,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas global. Gangguan di kawasan ini memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

China dan Rusia Disebut Terlibat

Di tengah konflik yang semakin luas, laporan dari CNN menyebut China mulai mempertimbangkan peningkatan dukungan terhadap Iran, termasuk bantuan finansial serta komponen yang berkaitan dengan sistem rudal.

China diketahui merupakan pembeli utama minyak mentah Iran dan memiliki kepentingan besar terhadap keamanan jalur energi di Selat Hormuz.

Sementara itu, Rusia juga dilaporkan memberikan dukungan intelijen kepada Iran, termasuk citra satelit dan data pergerakan pasukan Amerika Serikat.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengecam keras pembunuhan Ali Khamenei dan menyebutnya sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.

Jika keterlibatan kekuatan besar ini terus meningkat, para pengamat menilai konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berpotensi berkembang menjadi krisis geopolitik global yang jauh lebih luas. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar