BorneoFlash.com, SAMARINDA - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan upaya perawatan sistem drainase perkotaan tetap berjalan sebagaimana mestinya, meskipun kebijakan efisiensi anggaran tengah diberlakukan.
Tim khusus pemeliharaan drainase yang dikenal dengan sebutan Hantu Banyu tetap beroperasi secara normal untuk mendukung pengendalian banjir di wilayah kota.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda menegaskan bahwa kebijakan penghematan anggaran tidak berdampak pada jumlah personel maupun operasional satuan tugas drainase. Seluruh tim yang selama ini menangani pemeliharaan saluran air tetap dipertahankan tanpa pengurangan.
Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti, menjelaskan bahwa Tim Hantu Banyu merupakan satgas swakelola yang berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemeliharaan Saluran Drainase dan Irigasi.
Tim ini secara khusus menangani perawatan drainase di kawasan perkotaan, termasuk daerah yang memiliki tingkat kerawanan genangan cukup tinggi seperti Air Hitam.
“Pemeliharaan drainase dilaksanakan oleh Tim Hantu Banyu yang bermarkas di kawasan polder Air Hitam. Kegiatan ini dilakukan secara rutin, telah terjadwal setiap tahun, serta menindaklanjuti usulan dari kelurahan dan kecamatan,” ujar Desy, pada Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, ruang lingkup kerja tim tersebut terbatas pada saluran drainase di dalam wilayah kota. Sementara itu, penanganan alur sungai berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi dan telah dilaksanakan secara berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.
Menjawab isu efisiensi anggaran, Desy menegaskan bahwa tidak ada kebijakan pengurangan jumlah satuan tugas, termasuk Tim Hantu Banyu. Seluruh pekerjaan berbasis satgas di lingkungan PUPR tetap berjalan sesuai dengan struktur yang ada.
“Jumlah satgas tidak mengalami perubahan. Pekerjaan normalisasi yang menjadi tanggung jawab satgas tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya,” tegasnya.
Dari sisi pembiayaan, Desy mengungkapkan bahwa alokasi anggaran untuk operasional Tim Hantu Banyu sejak tahun sebelumnya berada di kisaran Rp15 miliar per tahun.
Anggaran tersebut mencakup kebutuhan operasional serta pengadaan sarana pendukung kegiatan lapangan.
“Besaran anggaran sejak tahun lalu sekitar Rp15 miliar. Pada tahun ini, pengadaan sarana pendukung kami kendalikan sementara. Namun, upah dan operasional satgas tidak mengalami penyesuaian,” jelasnya.
Meski realisasi anggaran tetap menyesuaikan kondisi keuangan daerah selama tahun berjalan, Desy memastikan keberadaan Tim Hantu Banyu tetap menjadi prioritas Pemkot Samarinda dalam menjaga fungsi drainase dan menekan potensi banjir.
“Tim Hantu Banyu tetap menjadi prioritas. Penyesuaian hanya dilakukan pada pengadaan barang, bukan pada pelaksanaan tugas satgas,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar