“Hasil TKA memperlihatkan capaian Matematika dan Bahasa Inggris yang masih sangat rendah. Hal ini perlu dikaji bersama, termasuk menilai sejauh mana nilai rapor yang selama ini diberikan telah mencerminkan kompetensi nyata peserta didik,” ujar Damayanti, pada Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, TKA memiliki keunggulan dibandingkan penilaian internal sekolah karena memberikan gambaran objektif terhadap kemampuan akademik siswa di lapangan.
Oleh sebab itu, hasil TKA seharusnya dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, termasuk metode, pendekatan, dan efektivitas pembelajaran di setiap satuan pendidikan.
Selain faktor sekolah, Damayanti juga menyoroti peran lingkungan keluarga yang dinilainya sangat menentukan dalam membentuk kebiasaan belajar anak.
Mengingat sebagian besar waktu siswa dihabiskan di luar sekolah, keterlibatan orang tua menjadi krusial dalam menanamkan disiplin, budaya belajar, serta kemampuan berpikir kritis sejak usia dini.
Ia mengingatkan agar menurunnya capaian akademik tidak sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara institusi pendidikan, keluarga, dan lingkungan sekitar.
“Ketika hasil belajar mengalami penurunan, tidak tepat jika seluruh tanggung jawab hanya diarahkan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran yang sama penting dalam mendukung proses pendidikan anak,” tegasnya.
Damayanti juga menyinggung dampak perkembangan teknologi, khususnya penggunaan gawai yang tidak terkontrol. Ia menilai kebiasaan tersebut berpotensi mengurangi waktu belajar sekaligus melemahkan kemampuan dasar siswa, seperti logika berpikir, konsentrasi, dan pemahaman akademik.
Ia berharap hasil TKA di Kalimantan Timur dapat dijadikan rujukan utama dalam perumusan kebijakan pendidikan ke depan. Dengan evaluasi yang tepat dan menyeluruh, peningkatan kualitas sumber daya manusia Kaltim diharapkan dapat terwujud dan mampu bersaing di tingkat nasional.






