“Ketika disampaikan bahwa seluruh fraksi telah dimintai pandangan, kenyataannya fraksi kami tidak dihubungi sama sekali. Menurut kami, hal tersebut tidak sejalan dengan etika kelembagaan,” katanya.
Damayanti turut menyoroti bahwa pengabaian tersebut tidak hanya berdampak pada fraksi, tetapi juga dirasakan secara personal.
Ia menyebut kejadian ini memiliki nuansa perlakuan yang tidak setara, terlebih dirinya merupakan satu-satunya ketua fraksi perempuan di DPRD Kaltim.
“Saya melihat ini sebagai bentuk perlakuan yang tidak adil, baik terhadap saya pribadi maupun terhadap fraksi yang saya pimpin,” tegasnya.
Kendati demikian, Damayanti menilai penting bagi seluruh fraksi menjaga hubungan kemitraan dalam jangka panjang.
Ia berharap dinamika yang terjadi dapat menjadi pembelajaran bersama agar komunikasi politik di DPRD Kaltim dapat terbangun secara lebih sehat.
“Kami baru memasuki tahun pertama masa kerja. Semoga pengalaman ini menjadi bahan evaluasi sehingga hubungan antarlembaga dan antarpimpinan fraksi dapat terjalin dengan lebih baik, saling mendukung, dan penuh saling menghargai,” pungkasnya.






