BorneoFlash.com, SAMARINDA - Pengelolaan keuangan dan kualitas layanan rumah sakit Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi sorotan serius terkait kebutuhan transparansi laporan keuangan dan peningkatan mutu pelayanan.
Merespons isu tersebut, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim bersama Ketua DPRD menggelar rapat koordinasi dengan jajaran Dinas Kesehatan Kaltim serta delegasi dari berbagai rumah sakit untuk membahas evaluasi kinerja dan proyeksi target BLUD tahun 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, memaparkan bahwa forum diskusi tersebut mengkaji berbagai dimensi operasional rumah sakit, mencakup standar mutu pelayanan, respons terhadap keluhan publik mengenai layanan poliklinik tanpa biaya, serta keterbukaan dalam pelaporan keuangan.
"Syukur alhamdulillah, mitra-mitra dari rumah sakit yang telah mengimplementasikan skema BLUD telah mempresentasikan mekanisme pengelolaan finansial mereka secara komprehensif. Komisi IV beserta Ketua DPRD telah memberikan berbagai rekomendasi strategis, termasuk urgensi penyampaian laporan pemasukan bulanan yang perlu diteruskan kepada Komisi IV sebagai bentuk koordinasi,"papar Jaya.
Dia menambahkan bahwa sistem pelaporan bulanan tersebut diperlukan sebagai instrumen monitoring untuk memastikan pencapaian target pendapatan rumah sakit selaras dengan proyeksi yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Jaya menguraikan estimasi pendapatan tahunan sejumlah rumah sakit di Kaltim, yang meliputi:
RSUD AW Sjahranie: Rp545 miliar per tahun
RSUD Kanujoso Djatiwibowo: Rp478 miliar per tahun
RS Atma Husada Mahakam: Rp23 miliar per tahun
RS Mata Kaltim: Rp14 miliar per tahun
RS Korpri Kaltim: Rp1,8 miliar per tahun
"Apabila dikalkulasi secara rata-rata, nominal tersebut dapat dikonversi menjadi target bulanan untuk keperluan pemantauan pencapaian. Target ini mutlak diupayakan agar pendapatan rumah sakit tidak menjadi beban fiskal tambahan bagi pemerintah daerah,"jelasnya.
Selanjutnya, Jaya menegaskan bahwa inovasi dalam bidang pelayanan merupakan faktor krusial untuk mengoptimalkan performa rumah sakit sekaligus mendorong tercapainya surplus pendapatan.
Salah satu strategi yang diusulkan adalah maksimalisasi utilisasi kapasitas tempat tidur.
"Inovasi dalam sektor layanan menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai ilustrasi, RSUD AWS memiliki kapasitas sekitar 500 tempat tidur. Kita perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap ruang-ruang yang memiliki tingkat okupansi tinggi dan yang kurang optimal pemanfaatannya. Pengelolaan kapasitas tempat tidur yang efektif akan berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan dan memberikan dampak positif terhadap aspek pendapatan,"ungkapnya.
Dengan target pendapatan yang telah ditetapkan dan sistem monitoring yang ketat, diharapkan rumah sakit dapat beroperasi secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada bantuan pemerintah.
Selain itu, fokus pada inovasi pelayanan dan efisiensi operasional menjadi kunci keberhasilan transformasi rumah sakit menuju kemandirian finansial yang berkelanjutan.
"Harapan kami, rumah sakit yang telah memperoleh status BLUD dapat secara berkelanjutan meningkatkan standar mutu pelayanan kesehatan, sambil memelihara transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan. Langkah ini merupakan fondasi penting untuk mendukung kemandirian pembiayaan sektor kesehatan di tingkat daerah,"tegas Jaya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar