BorneoFlash.com, WASHINGTON - Militer Amerika Serikat sempat menyiapkan operasi darat untuk merebut cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. Namun, Presiden Donald Trump memutuskan menunda rencana tersebut karena khawatir memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Laporan CNN pada Jumat menyebut Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine melakukan kunjungan rahasia ke markas Komando Pusat AS di Florida pada akhir Mei. Dalam kunjungan itu, ia menerima pengarahan terkait rencana operasi militer yang bertujuan menguasai uranium Iran secara paksa.
Trump kemudian menangguhkan rencana tersebut setelah menerima peringatan bahwa operasi itu berpotensi memicu respons keras dari Teheran, memperpanjang konflik, serta mengguncang stabilitas ekonomi global. Selain itu, Trump juga mempertimbangkan risiko jatuhnya korban dalam jumlah besar di pihak militer AS.
Di sisi lain, peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran semakin terbuka. Trump menyatakan seluruh pihak terkait, termasuk Israel, telah menyepakati poin-poin utama perjanjian dan penandatanganan dapat dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah menyepakati pokok-pokok nota kesepahaman.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyebut Teheran dan Washington kini berada pada titik terdekat untuk mencapai kesepakatan. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan teks final perjanjian perdamaian telah disepakati. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar