Dia mengatakan Baldiah memiliki suami dan seorang anak yang masih SD. Dia mengatakan suami Baldiah tak punya pekerjaan dan merupakan penyandang tunarungu dan tunawicara.
"Memang itu suaminya kan punya keterbatasan juga, dia (suami) kan tunarungu dan tunawicara. Jadi mungkin kalau manggil istrinya itu dengan isyarat, dengan tepukan (pukulan ringan) atau apa gitu, kan, mungkin disangkanya dia itu mukul, jadi karena ada keterbatasan juga suaminya," ucap Novita.
Dia mengatakan Baldiah juga mengalami keterbatasan mental. Dia mengatakan pihak keluarga telah melarang Baldiah mengemis, namun tak dituruti.
"Nah si ibu ini (Baldiah) punya keterbatasan juga. Keterbatasan mental, jadi kurang nyambung gitu kalau ngobrol," katanya.
Kepala Desa Ciasihan, Lilih, juga menepis narasi yang menyebut Baldiah mengalami KDRT. Dia mengatakan Baldiah dan suaminya sama-sama mengalami keterbatasan.
"Tidak benar itu. Bukan KDRT. Ibu Baldiah itu memang kurang normal, suka ngemis di Gunung Bunder kalau hari Sabtu-Ahad. Iya (dia tulang punggung keluarga). Suaminya memang kurang normal juga, selain dari tunarungu dan tunawicara.," kata Lilih.
Lilih menyebut Baldiah dijaga keluarga agar tidak kembali mengemis. Lilih mengatakan Baldiah merupakan salah satu penerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.
"Ada anaknya masih sekolah di SD. Ngemis itu emang alasannya untuk ngebiayain anak sekolah. Sekarang tidak (mengemis). Insyaallah, kalau dari pemerintahan, dapat PKH, BNPT, KIP, dan beras," kata Lilih.
Sumber: DetikNews
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar