BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Gubernur Kaltim Isran Noor menegaskan dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri 1442 H, dipastikan tetap dengan memenuhi standar protokol kesehatan (Prokes).
Dia terangkan, shalat idul fitri ini hukumnya sunah dan tidak wajib. Hanya memang dia terangkan, pelaksanaan salat Id ini kata dia, dilakukan setahun sekali.
"Dilakasanakan ditengah pandemi Covid-19 ini, itu harus dilaksanakan dengan persyaratan-persyaratan Prokes yang sudah disampaikan dan sudah dilakukan sesuai dengan payung hukumnya, dan larangannya. dalam pelaksanaan tertentu itu tidak boleh dilakukan," ujarnya usai apel gelar pasukan di lapangan SPN Polda Kaltim Rabu (5/5/2021).
Dia terangkan, jika dulu dalam pelaksanaan salat Idul Fitri sebelumnya satu dengan lainnya itu saff satu dengan yang lain rapat, saat ini sesuai prokes.
Sementara itu, ditanya mengenai Shalat Idul Fitri lokasi terbuka, dia terangkan hal tersebut boleh dilakukan karena dianggap lebih luas.
" Lapangan bola itu bisa diselenggarakan shalat Idul fitri. Sepanjang lapangan bola tersebut bersih, artinya tidak ada najis di sana. Tapi tetap, dengan prokes. Itupun harus dipetimbangan secara matang ikut atau tidak ikut dalam pelaksanaan salat Id tersebut, kembali pada diri masing-masing," terangnya.
Kembali dia terangkan bahwa kesehatan merupakan segala-galanya. Kalau semuanya sehat itu semua bisa normal kembali.
Meski demikian, dirinya berharap kepada masyarakat agar dapat memprtimbangkan kembali untuk tidak ikut melaksanakan shalat Idul fitri di lapangan.
Karena kalau pun ikut sholat id di lapangan itu harus dengan Prokes sangat ketat.
"Karena instruksi dari Kapolri, telah jelas memperketat semua kegiatan, dengan syarat berpedoman prokes," bebernya.
Sementara itu, berkaitan dengan pawai takbiran dia tegaskan itu tidak boleh dilaksanakan.
Dalam kesempatan itu berkaitan dengan mudik, dia juga menjelaskan sudah dua tahun ini dalam pelaksanaan mudik itu tidak dapat berjalan normal.
Karena terdapat pertimbangan-pertimbangan yang matang harus dilakukan untuk segera memutus rantai penyebaran Covid-19.
Adapun, cerminan-cerminan seperti yang terjadi saat ini. Seperti di India dengan berbagai klaster dan varian baru Covid -19 itu yang harus menjadi pertimbangan.
"Karena bisa dibayangkan kalau ada anggota keluarga yang kena. Karena tidak ada lagi penyesalan di belakang. Jauhkan bala, kita terjadi seperti di India.
kita kekurangan tenaga medis, kemudian kita kurangnya rumah sakit dan bisa dibayangkan jika hal itu terjadi," tandasnya.
(BorneoFlash.com/Eko)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar