BorneoFlash.com, SAMARINDA – Persoalan banjir yang terus berulang di SDN 012 Sungai Kunjang menjadi tantangan serius bagi sekolah tersebut.
Selama puluhan tahun, air kerap menggenangi lingkungan sekolah setiap kali hujan dengan intensitas tinggi turun, sehingga berdampak pada proses belajar mengajar hingga menurunnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sana.
Letak bangunan sekolah yang berada lebih rendah dibanding kawasan sekitarnya membuat air mudah masuk ke area sekolah. Kondisi itu diperparah dengan posisi lantai ruang kelas yang hampir sejajar dengan badan jalan, sehingga genangan sulit dihindari ketika curah hujan meningkat.
Pada beberapa kejadian, ketinggian air bahkan dapat mencapai sekitar setengah meter. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas pendidikan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua terhadap keselamatan dan kenyamanan anak-anak mereka saat berada di sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 012 Sungai Kunjang, Laode Akahan Haira, mengungkapkan bahwa dampak banjir telah memengaruhi pilihan masyarakat dalam menentukan sekolah bagi anak-anak mereka.
Menurutnya, banyak warga yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah justru memilih mendaftarkan anak ke sekolah lain yang dinilai lebih aman dari ancaman banjir.
“Fenomena yang terjadi saat ini, sebagian warga di sekitar sekolah lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke SDN 020 karena kondisi di sana tidak terdampak banjir. Kekhawatiran orang tua terhadap potensi genangan menjadi salah satu pertimbangan utama,” ujar Laode, pada Kamis (4/6/2026).
Saat ini SDN 012 Sungai Kunjang memiliki 176 siswa yang ditangani oleh 10 tenaga pendidik dalam tujuh rombongan belajar. Namun pada masa Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini, jumlah pendaftar yang masuk masih tergolong terbatas.
“Hingga saat ini pendaftar baru berkisar 30 orang. Jumlah tersebut masih relatif sedikit. Banyak orang tua lebih memilih sekolah yang lokasinya lebih jauh, asalkan tidak menghadapi persoalan banjir seperti yang terjadi di sini,” katanya.
Laode menjelaskan, sejak berdiri sekitar tiga dekade lalu, sekolah tersebut belum pernah mendapatkan pembangunan ulang secara menyeluruh. Meski kondisi bangunan dan ruang kelas masih cukup layak digunakan, persoalan banjir tetap menjadi kendala utama yang belum terselesaikan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar