BorneoFlash.com, SAMARINDA — Di balik pesatnya perkembangan Kota Samarinda, masih terdapat kisah perjuangan hidup yang penuh keterbatasan.
Di sebuah gang sempit kawasan Jalan Biawan Gang Semangat Blok 13B, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir, berdiri sebuah rumah kayu tua dengan kondisi memprihatinkan.
Di rumah itulah tiga orang bersaudara menjalani kehidupan sambil merawat sang ibu yang mengalami kelumpuhan akibat stroke.
Hunian yang mereka tempati jauh dari kondisi layak. Sejumlah bagian dinding rumah tampak rusak dan berlubang, atap kerap bocor ketika hujan turun, serta lantai kayu mulai lapuk dimakan usia.
Rumah tersebut juga belum memiliki akses listrik maupun air bersih. Pada malam hari, mereka hanya mengandalkan penerangan seadanya untuk menjalankan aktivitas.
Dani (21), anak pertama dalam keluarga itu, kini memikul tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama sejak ibunya jatuh sakit. Setiap hari ia bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya bekerja sejak pagi hingga malam hari, bahkan terkadang baru pulang menjelang tengah malam. Yang terpenting bagi saya, ibu dan adik-adik tetap dapat makan,” ujar Dani saat ditemui di kediamannya, pada Jumat (15/5/2026).
Dani menuturkan, dirinya memilih berjalan kaki menuju tempat kerja demi mengurangi pengeluaran harian. Penghasilan yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga serta membantu biaya pengobatan ibunya.
“Apabila ada sisa penghasilan, biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun membeli obat ibu,” tuturnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar