Menurut Halili, sistem arisan kurban menjadi model gotong royong yang efektif, karena membuka kesempatan bagi lebih banyak warga untuk bisa ikut berkurban meski dengan cara bertahap.
“Ini menjadi bentuk kebersamaan agar semakin banyak warga bisa ikut berpartisipasi dalam ibadah kurban setiap tahunnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain sebagai ibadah, kurban juga memiliki dampak sosial yang langsung dirasakan masyarakat, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan saat hari raya.
“Daging kurban yang diterima warga bisa bermanfaat untuk keluarga di rumah,” harapnya.
Tidak hanya fokus pada distribusi daging, panitia kurban juga memberi perhatian serius terhadap aspek kebersihan lingkungan. Seluruh limbah hasil penyembelihan ditangani secara terorganisir agar tidak menimbulkan dampak lingkungan.
Halili menjelaskan, limbah seperti darah, kotoran hewan, hingga plastik kemasan daging langsung ditangani di tempat yang telah disiapkan panitia.

“Pembuangan semua limbah sudah ada tempat khusus. Jadi tidak dibuang sembarangan supaya lingkungan tetap bersih dan nyaman,” ujarnya.
Pelaksanaan kurban di Gunung Samarinda ini menjadi cerminan kuatnya budaya gotong royong masyarakat yang terus terjaga. Warga berharap tradisi arisan kurban dan kebersamaan ini dapat terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar