Berita Nasional

Minyak Jelantah Program MBG Tembus 6 Juta Liter per Bulan, BGN Dorong Energi Hijau

lihat foto
Kepala BGN Dadan Hindayana (empat dari kanan) dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Kamis (7/5/2026), terkait pemanfaatan minyak jelantah sebagai bagian dari pengembangan energi alte
Kepala BGN Dadan Hindayana (empat dari kanan) dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Kamis (7/5/2026), terkait pemanfaatan minyak jelantah sebagai bagian dari pengembangan energi alternatif dan sistem energi rendah karbon di Indonesia. FOTO : ANTARA/HO-BGN

BorneoFlash.com, JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menghasilkan sekitar 6 juta liter minyak jelantah setiap bulan. BGN menilai potensi itu mampu mendukung pengembangan energi hijau sekaligus memperkuat ekonomi sirkular nasional.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah per bulan. Saat ini, sebanyak 17.200 SPPG beroperasi di Pulau Jawa.

“Jika dikalikan 500 liter, potensi minyak jelantah bisa mencapai sekitar 6 juta liter per bulan,” kata Dadan dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Dadan menjelaskan setiap SPPG menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng setiap bulan. Setelah memasak, SPPG mengubah sekitar 70 persen minyak tersebut menjadi minyak jelantah.

BGN juga membatasi penggunaan minyak goreng untuk menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat Program MBG. BGN hanya mengizinkan penggunaan minyak goreng maksimal tiga kali sebelum menjadi minyak jelantah.

Selain itu, BGN mulai mendorong penggunaan energi alternatif di lingkungan operasional SPPG. BGN memanfaatkan jaringan gas alam dan Compressed Natural Gas (CNG) di sejumlah wilayah agar sistem energi menjadi lebih bersih dan efisien.

Dadan menilai jutaan liter minyak jelantah dari Program MBG dapat membuka peluang besar untuk membangun kolaborasi energi hijau berbasis ekonomi sirkular sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

“Minyak yang sebelumnya menjadi sampah kini bisa memiliki nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali,” ujar Dadan. (*

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar